Dua puluh sembilan ribu. Itu jumlah lapangan kerja baru di Amerika Serikat sepanjang September 2026. Angka yang ditunggu pasar sebelum rilis: 90.000. Selisihnya lebih dari dua pertiga, dan pasar kripto bereaksi dalam hitungan menit.

Bitcoin melesat dari area US$84.000 ke sekitar US$87.000. Lalu, di hari yang sama, sebuah tanker minyak dilaporkan terkena proyektil saat melintas di Selat Hormuz. Beberapa jam kemudian, seluruh kenaikan itu tidak tersisa. Bitcoin mengakhiri sesi Jumat 2 Oktober 2026 di tempat yang kurang lebih sama seperti saat ia membuka hari, sekitar US$84.000 — setelah dalam satu hari pasar sempat menambah lalu menghapus sekitar US$50 miliar kapitalisasi.

Dan di Jakarta, arahnya berlawanan: Rupiah justru ditutup menguat 84 poin ke Rp17.882 per dolar AS.

Angka 29.000 dan Revisi ke Bawah

Menurut data yang dirilis Biro Statistik Tenaga Kerja AS, nonfarm payrolls September hanya bertambah 29.000. Angka konsensus berada di kisaran 90.000, dengan sebagian proyeksi pasar menyebar antara 84.000 dan 93.000. Yang membuat angkanya makin berat: pertumbuhan Agustus direvisi turun menjadi 133.000, dari laporan awal 162.000. Tingkat pengangguran naik ke 4,2% dari 4,1%.

Ini bukan sinyal satu bulan. Ini revisi ke bawah yang ditempel pada angka baru yang sudah lemah — kombinasi yang biasanya membuat pasar obligasi bergerak lebih dulu daripada pasar saham. Rincian datanya bisa dibaca di Reuters dan crypto.news.

Kenapa Pasar Kripto Ikut Bergairah

Reaksi cepat itu punya logika sederhana. Selama tiga minggu terakhir, kekhawatiran utama pasar adalah The Fed masih bisa menaikkan suku bunga sekali lagi. Data tenaga kerja yang lemah memindahkan kekhawatiran itu ke belakang.

Peluang kenaikan bunga pada rapat Oktober runtuh. Menurut perhitungan pasar yang dikutip Liputan6, peluangnya tinggal sekitar 26%, turun tajam dari 69% pada pekan sebelumnya. Analisis lain menempatkannya bahkan di bawah 20%. Bagi aset berisiko mana pun — saham, obligasi negara berkembang, dan kripto — artinya satu tekanan langsung hilang: biaya uang tidak naik bulan ini.

US$87.000, Lalu Kembali ke Awal

Pergerakan Bitcoin hari itu tercatat jelas. Sesi 2 Oktober dibuka di sekitar US$84.824, lalu menembus ke titik tertinggi harian US$87.173, seperti dilaporkan Crypto News Flash. Angka itu menjadikannya cetakan tertinggi sejak 23 September. Sepanjang sesi sebelumnya, Bitcoin juga sudah menembus US$86.000 menjelang rilis data ketenagakerjaan, sebagaimana dicatat CoinDesk dan Benzinga.

Tapi tidak ada yang bertahan. Level US$85.000 yang selama beberapa kali percobaan menjadi dinding jual akhirnya tertembus, lalu Bitcoin berhenti lagi di sekitar US$87.000 dan berbalik turun. Yang perlu dipahami: ini bukan rally yang gagal karena tidak ada pembeli sama sekali, dan juga bukan kehancuran. Ini breakout yang berhasil menembus satu level, lalu tidak menemukan bahan bakar untuk lanjut ke level berikutnya.

🚀 Siap Memulai?

Platform ramah pemula Indonesia 👋 Daftar Binance dengan kode referral HERMESS dan mulailah perjalanan kripto Anda!

⚠️ Konten ini hanya untuk tujuan informasi, bukan saran investasi. Investasi kripto memiliki risiko tinggi — harga dapat berfluktuasi secara drastis. Selalu lakukan riset sendiri (DYOR).

Yang Mendorong Harga Sebenarnya Bukan Pembeli Baru

Bagian ini yang paling sering dilewatkan pembaca retail, padahal justru ini inti kejadiannya.

Dalam 24 jam di sekitar pergerakan itu, sekitar US$359,27 juta posisi berleverage dilikuidasi di seluruh pasar kripto. Rinciannya: US$274,64 juta berasal dari posisi short (sekitar 76% dari total) dan US$84,63 juta dari posisi long. Di pasar Bitcoin saja, likuidasi mencapai US$153,91 juta. Dan ada satu catatan yang menunjukkan seberapa cepat semuanya terjadi: sekitar US$110 juta posisi short terhapus dalam jendela sekitar 10 menit saja, menurut laporan CryptoBriefing.

Artinya, sebagian besar bahan bakar kenaikan itu adalah trader yang bertaruh turun lalu dipaksa menutup posisi — dan penutupan posisi short secara mekanis berarti pembelian di pasar. Begitu tekanan paksa itu habis, harga kehilangan pendorongnya.

Bukti lain datang dari sisi leverage. Nilai open interest Bitcoin berakhir September di sekitar US$52 miliar — titik terendah dalam setahun — lalu naik ke sekitar US$56,2 miliar dalam dua hari pertama Oktober, seperti dicatat CryptoSlate. Kenaikan open interest sekitar 9% itu jauh lebih besar daripada kenaikan harga persentasenya. Ditambah RSI 14 hari yang menyentuh 70,09 alias masuk zona overbought, gambarannya cukup jelas: eksposur berleverage tumbuh lebih cepat daripada permintaan spot.

Sinyal terakhir yang memperkuat pembacaan itu: Coinbase Premium masih negatif, yang menunjukkan pembelian spot dari Amerika Serikat belum mengikuti kekuatan harga. Kalau premium itu berbalik positif bersamaan dengan permintaan yang membaik, komposisi rally-nya baru berubah menjadi lebih sehat.

Proyektil di Selat Hormuz

Lalu datang bagian kedua hari itu. Lembaga pemantau maritim Inggris UKMTO melaporkan bahwa seorang nakhoda kapal tanker melaporkan kapalnya terkena proyektil pada 11:22 UTC saat melakukan transit keluar di Selat Hormuz. Benturan itu memicu kebakaran kecil dan membuat listrik kapal sempat mati. Awak berhasil memadamkan api, kapal melanjutkan pelayaran, dan tidak ada laporan korban jiwa maupun pencemaran. UKMTO tidak menyebut nama kapal maupun pihak penyerang, dan menyatakan otoritas masih menyelidiki.

Insiden ini adalah serangan tanker keenam dalam pekan itu. Sepanjang September, menurut data Seatrade, kapal-kapal menghadapi sedikitnya 16 serangan di selat tersebut. Sejumlah laporan pasar menghubungkan pembalikan harga Bitcoin hari itu dengan peristiwa ini — logikanya: risiko geopolitik naik, dan aset berisiko ditarik keluar. Rangkuman peristiwanya bisa dibaca di BeInCrypto.

Yang menarik justru reaksi harga minyaknya. Minyak mentah AS diperdagangkan di sekitar US$93,70 dan Brent spot di sekitar US$106,30 — keduanya naik kurang dari 0,25%. Kontrak berjangka Brent malah sempat turun 2,89% ke US$99,35 karena laporan bahwa Uni Eropa dan anggota IEA mempertimbangkan pelepasan cadangan. Jadi minyak hampir tidak bergerak, sementara kripto bergerak tajam. Asimetri itu penting: pasar kripto sedang dalam kondisi berleverage tinggi, sehingga berita sekecil apa pun cukup untuk memicu likuidasi berantai.

Latar Besar: Yield Treasury 5,34%, Tertinggi Sejak 2002

Supaya tidak salah baca satu hari, letakkan kejadian ini di atas konteks kuartal.

Pada 1 Oktober 2026, yield US Treasury tenor 10 tahun menyentuh 5,34% — tertinggi sejak 2002. Rilis resmi The Fed (H.15) pada hari yang sama menempatkan 10 tahun di 5,29%, 30 tahun di 5,64%, dan yield riil 10 tahun di 2,93%. Sepanjang kuartal ketiga, yield 10 tahun naik hampir 90 basis poin, kenaikan kuartalan terbesar pada abad ini.

Yang luar biasa: di kuartal yang sama, Bitcoin naik sekitar 43% dan Ethereum sekitar 71%. Dalam tiga bulan itu, ETF Bitcoin spot yang diperdagangkan di AS menyerap sekitar US$6,3 miliar dan ETF Ethereum sekitar US$3 miliar. Bahkan pada 1 Oktober, saat yield masih di puncak, ETF Bitcoin spot AS kembali mencatat arus masuk bersih US$102,7 juta setelah sesi sebelumnya keluar. Analisis lengkap soal bagaimana yield 5% mengubah ekonomi leverage dan imbal hasil DeFi ada di CryptoSlate.

Dan ada satu perkembangan jangka panjang: Citi menaikkan target harga Bitcoin 12 bulan menjadi US$113.000, dari sebelumnya US$82.000, dengan alasan aktivitas kripto yang lebih kuat, arus masuk ETF, dan alokasi bertahap dari penasihat keuangan serta perusahaan pialang. Target itu bukan janji, tapi ia menunjukkan ke mana ekspektasi institusi bergerak.

Sisi Indonesia: Rupiah Malah Menguat ke Rp17.882

Sekarang bagian yang paling relevan buat kamu yang memegang kripto dengan Rupiah.

Pada penutupan perdagangan Jumat 2 Oktober 2026, Rupiah di pasar spot menguat 84 poin atau 0,47% menjadi Rp17.882 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya Rp17.966. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia juga menguat ke Rp17.898, dari Rp17.937 — naik 0,22%. Sepanjang pekan, Rupiah spot menguat 0,12% dan JISDOR menguat 0,11%. Pergerakannya sempat bergejolak dan menyentuh Rp18.000 secara intraday. Data kursnya bisa kamu cek langsung di halaman JISDOR Bank Indonesia, sementara rincian penutupannya ada di Bisnis.com.

Pendorong utamanya justru data tenaga kerja AS tadi. Kekuatan dolar AS melemah — indeks dolar (DXY) turun ke sekitar 101,86, atau melemah 0,23% — dan itu memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah. Untuk perdagangan pekan depan, analis memperkirakan Rupiah bergerak di rentang Rp17.750 sampai Rp18.050.

Dari sisi kebijakan, Bank Indonesia masih memegang posisi ketat. Pada Rapat Dewan Gubernur 22-23 September 2026, BI mempertahankan BI-Rate di 5,75%, dengan suku bunga Deposit Facility 4,75% dan Lending Facility 6,50%. Gubernur BI Destry Damayanti juga menyampaikan perubahan strategi yang jarang dibahas: intervensi di pasar spot kini hanya sekitar 30% dari total intervensi, sisanya lewat instrumen derivatif DNDF di dalam negeri dan NDF di luar negeri, karena intervensi spot dinilai paling mahal dan langsung menggerus cadangan devisa. Sejak September 2026, insentif lindung nilai DNDF dinaikkan menjadi 25% untuk tenor enam bulan dan 30% untuk tenor 12 bulan, dari sebelumnya 15%. Penjelasannya ada di ANTARA dan siaran pers BI.

Kontekstnya untuk pasar kripto domestik: jumlah akun konsumen kripto di Indonesia mencapai 22,93 juta per Juli 2026, dengan nilai transaksi Januari-Juli 2026 sebesar Rp171,12 triliun. Kerangka pengawasannya kini di bawah OJK, dengan peraturan PADK 3/2026 yang mulai berlaku 1 September 2026 dan mengatur mekanisme pelaporan penyelenggara perdagangan aset keuangan digital. OJK sendiri telah menerbitkan izin bagi 26 Pedagang Aset Keuangan Digital. Gambaran pasar domestiknya ada di sini.

Soal pajak, aturannya sudah dipermudah lewat PMK 50/2025: penjualan aset kripto di platform dalam negeri dikenai PPh Final 0,21% dari nilai transaksi (1% untuk platform luar negeri), sementara pengalihan aset kripto bebas PPN. Dua hal yang sering disalahpahami: pajaknya dikenakan atas nilai transaksi, bukan laba, dan exchange berizin memotongnya otomatis saat kamu menjual — jadi tidak ada pekerjaan tambahan bagimu. Rinciannya ada di penjelasan Ikatan Konsultan Pajak Indonesia dan ringkasan DDTCNews.

Untuk investor Muslim, kerangka syariahnya juga sudah jelas. Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid, lewat fatwa tertanggal 4 Maret 2026, menempatkan aset kripto sebagai harta bernilai yang sah untuk diinvestasikan — dengan syarat. Investasinya bersifat muqayyad (terikat): tidak boleh dipakai sebagai alat pembayaran, dan tidak boleh melewati mekanisme yang diharamkan seperti futures, margin trading, short selling, dan pump-and-dump. Karena itu investasi kripto bisa menjadi haram bila syaratnya dilanggar. Fatwa DSN-MUI No. 140/DSN-MUI/XI/2021 tentang aset kripto menjadi rujukan pelengkapnya, dan rangkuman fatwa Muhammadiyah bisa dibaca di sini. Bacaan praktisnya: bagi investor Muslim, yang jadi persoalan bukan volatilitasnya, tapi mekanisme transaksinya.

Dan satu pengingat yang tidak boleh dilewatkan: aset kripto di Indonesia bukan alat pembayaran yang sah. Rupiah tetap satu-satunya mata uang legal, dan kripto diposisikan sebagai aset yang bisa diinvestasikan.

Tiga Hal yang Bisa Kamu Lakukan Sekarang

Pertama, pisahkan dua hal yang hari itu tercampur. Kenaikan ke US$87.000 sebagian besar digerakkan likuidasi short, bukan permintaan spot baru. Kalau kamu membaca laporan “Bitcoin menembus US$87.000” tanpa konteks likuidasi, kamu sedang membaca separuh cerita. Perhatikan Coinbase Premium dan open interest bersamaan — selama keduanya bergerak berlawanan, kenaikannya rapuh.

Kedua, perhatikan selisih waktu antara kamu membeli dan kamu menjual. Fakta bahwa Rupiah menguat ke Rp17.882 di hari yang sama saat Bitcoin kembali ke titik awal berarti keuntungan atau kerugianmu dalam Rupiah dipengaruhi dua variabel sekaligus: harga aset dan kurs. Karena Indodax dan Tokocrypto menyediakan pasangan langsung BTC/IDR, kamu tidak perlu menukar Rupiah ke USDT dulu untuk masuk atau keluar posisi. Satu kali konversi lebih sedikit berarti satu lapis biaya lebih sedikit.

Ketiga, siapkan rencana sebelum berita berikutnya datang. Rentang Rp17.750-Rp18.050 untuk pekan depan dan peluang kenaikan bunga Oktober yang tinggal sekitar 26% berarti pasar masih akan bergerak berdasarkan data, bukan berdasarkan tren yang sudah pasti. Tentukan di harga berapa kamu menambah dan di harga berapa kamu berhenti, sebelum kamu membaca berita berikutnya. Yang membuat investor bertahan bukan kemampuan menebak arah, tapi keputusan yang sudah diambil sebelum harga bergerak.

🚀 Siap Memulai?

Platform ramah pemula Indonesia 👋 Daftar Binance dengan kode referral HERMESS dan mulailah perjalanan kripto Anda!

⚠️ Konten ini hanya untuk tujuan informasi, bukan saran investasi. Investasi kripto memiliki risiko tinggi — harga dapat berfluktuasi secara drastis. Selalu lakukan riset sendiri (DYOR).

🔥 Trading di Bybit Juga

Bybit adalah exchange top-3 global. Daftar dengan kode 7LMZ0G untuk diskon biaya trading!

Daftar Bybit →

⚠️ Investasi kripto memiliki risiko tinggi. Selalu lakukan riset sendiri (DYOR).